Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2018

Alkisah

Senada dengan apa yang pernah kau nyanyikan, aku menggeleng takjub. Rapat-rapat kugariskan jengkal yang terulur antara khayalku dengan ujung jemari nyatamu. Sungguh meja yang kesepian, tanpa secangkir kopi maupun tumpukan buku-buku tebal. Tapi, alkisah bersorak sorai pada rentetan huruf bersamaku. Mengumbar betapa banyak janji yang telah tercipta sepanjang langkah kaki ini menjelma menjadi jejak epitaf yang bisu. Ya, bisu sebisu jarak antara kau dan aku. Jika kuberitahu, akan adakah sebuah kelopak bunga yang jatuh karena alkisah yang kugubah ini? Atau melankoli dari beberapa lembar kartu pos yang belum dijemput pemiliknya? Selayaknya angin yang berhembus begitu saja, ada banyak alkisah yang belum sempat terlontar dariku. Alkisah perihal risalah hati yang membeku, karenamu. Tersebab alkisahku adalah pendiam, hanya mampu memberontak dalam tatapan dan bertaut-tautan, memotong jalan