Alkisah

Senada dengan apa yang pernah kau nyanyikan,
aku menggeleng takjub.
Rapat-rapat kugariskan jengkal yang terulur antara khayalku
dengan ujung jemari nyatamu.
Sungguh meja yang kesepian, tanpa secangkir kopi
maupun tumpukan buku-buku tebal.

Tapi, alkisah bersorak sorai pada rentetan huruf bersamaku.
Mengumbar betapa banyak janji yang telah tercipta
sepanjang langkah kaki ini menjelma menjadi jejak epitaf yang bisu.
Ya, bisu sebisu jarak antara kau dan aku.

Jika kuberitahu, akan adakah sebuah kelopak bunga yang jatuh
karena alkisah yang kugubah ini?
Atau melankoli dari beberapa lembar kartu pos
yang belum dijemput pemiliknya?

Selayaknya angin yang berhembus begitu saja,
ada banyak alkisah yang belum sempat terlontar dariku.
Alkisah perihal risalah hati yang membeku, karenamu.

Tersebab alkisahku adalah pendiam,
hanya mampu memberontak dalam tatapan
dan bertaut-tautan,
memotong jalan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dialog Kesunyian

Tersampaikan

Memintal Kebencian