Postingan

Alkisah

Senada dengan apa yang pernah kau nyanyikan, aku menggeleng takjub. Rapat-rapat kugariskan jengkal yang terulur antara khayalku dengan ujung jemari nyatamu. Sungguh meja yang kesepian, tanpa secangkir kopi maupun tumpukan buku-buku tebal. Tapi, alkisah bersorak sorai pada rentetan huruf bersamaku. Mengumbar betapa banyak janji yang telah tercipta sepanjang langkah kaki ini menjelma menjadi jejak epitaf yang bisu. Ya, bisu sebisu jarak antara kau dan aku. Jika kuberitahu, akan adakah sebuah kelopak bunga yang jatuh karena alkisah yang kugubah ini? Atau melankoli dari beberapa lembar kartu pos yang belum dijemput pemiliknya? Selayaknya angin yang berhembus begitu saja, ada banyak alkisah yang belum sempat terlontar dariku. Alkisah perihal risalah hati yang membeku, karenamu. Tersebab alkisahku adalah pendiam, hanya mampu memberontak dalam tatapan dan bertaut-tautan, memotong jalan

Riwayat Yang Karam

#1 Aku lelah dalam peraduan. Ujung jariku kusut, menggigil Sesenggukanku telah luput menjadi orkestra dalam stoples #2 Kupilih sebuah khiar untuk mundur, dan membimbing hati untuk beristirahat Kedua lenganku tak cukup mampu untuk terus mengurai kristal cair yang tumpah Jelas sudah, Riwayatku ternyata karam, pun usai lama tersembam ~ Pekalongan, 21 April 2017

Memintal Kebencian

#1 Pada kumpulan spidol di meja, aku mengibaratkan mereka benang. Tunggu dulu, Ini cukup tak lazim. Berbeda dimataku, berdasarkan sebuah alkisah hati. #2 Kalau begitu, Sudut pandangku akan mereka adalah alat pemintalnya. Sebentar, inipun sama tak lazimnya. Karena ia hanya memintal kebencian #3 Jangan kaku. Mengapa? Karena hari-hariku bindam. Untuk apa? Agar tak terbengkalai, maka kupintal saja kebencian. Dilagukan oleh sepotong kenangan curam, untuk palung kalbu di dasar lautan. ~ Pekalongan, 17 April 2017

Di Balik Sekam

Kuhasut bising dengan pena lusuh yang tergeletak di atas meja. Kau memanggilku, dengan seikat ilalang layu di tanganmu Aku tak mendengar suaramu, Sebab terlalu sibuk menatap pembakar dengan lidi hangus itu Sekarang dia menuduhku! Seolah pembakar sekam di belakang rumah adalah ulah jari-jariku Kulewati saja ubin-ubin yang terbentang dibawah kakiku, lurus ke arah pintu Kuhampiri engkau, dengan sorot matanya yang menjuru kearahku Aku berbalik ke arahnya, dia bungkam. Rupanya, sesuatu ia sembunyikan di balik  sekam Terserta pula pemantik api terbuang di teras rumah. Kepadanya, kulempar penaku Tapi acuh buru-buru menyerbu Di balik sekam itu, Kertas-kertasku membisu. ~ Pekalongan, 15 April 2017

Dialog Kesunyian

#1 Sepasang sepatu hanyut dalam dialog sunyi bersama raknya. Dengan bahasa yang diterjemahkan suasana, bekas luka berdiri paling depan. Jasad rasa kini hanya membeku tak berkomentar, meski gelita terus saja mengusiknya. #2 Dalam dialog yang berbeda ini, kusaksikan pertunjukkan memilukan dari serakan elan yang berantakan. Dia yang mengumbar, kuperdengarkan.  #3 Kedipanku berhenti disana, dengan ragam sambutan menyakitkan. Kupungut kembali apa yang bertebaran, Kukokohkan lagi langkah hati yang masih saja menyesakkan Terakhir, kurayu sekali keduanya, Menjadikannya setara, di naung dialog kesunyian. ~ Pekalongan, 15 April 2017

Sulut Dini Hari

#1 Sejenak, getar sesal menusuk telapak tanganku Hadapkan duri-duri petir disamping dekap ceritaku Kuhentikan disini saja. Ihwal umpan ekor mata dilurus gulungan tikar #2 Pada yang belum jelas rupa ini, Kepul asap kopi menantang Meminta retasan pagi secepatnya #3 Izinkan aku untuk membakar janjimu Ibaratkan aku sebagai sulut dini harimu Sebablah aku, detak langkah-langkah pengapmu. ~ Wiradesa, 14 April 2017

Tersampaikan

#1 Pada satu siang, ku jumpa tirai hitam di jendela Ia terbuka. Sedangkan daun pintu melambai, memutih. Kusalamkan sudah cakapku pada bingkai biru Yang tetap halukan senyum maya dibalik kacanya #2 Ada yang menghadap bola mataku disini wajah pias yang menunggu pesan-pesanku Semedi manik matanya menanyaiku Antara jelmaan ruang rindu dalam seteru #3 Kusampaikan. Tersampaikan. Arwah lentik jari yang inginkan jabat tangan Aku membawa pesan perdamaian Dari tepian gelisah di ujung penantian. ~ Pekalongan, 13 April 2017